Doa Dua Menara 3
Baca dulu:
Doa Dua Menara 1
Doa Dua Menara 2
Sebelum akhirnya kami diberangkatkan ke tempat tugas masing-masing, kami dikumpulkan di kota Pontianak untuk mendapat penyambutan oleh Bapak Gubernur dan pengarahan dari dinas kesehatan.
"hai ca, akhirnya ya kita internsip bareng" aku menghela nafas panjang. Hanya bisa melontarkan senyum tipis. Kenapa sih harus satu tempat tugas dengan dia lagi. Ya tuhan, apa gak bisa ya aku terhindar dari orang-orang yang suka iri sama aku. Ini sih nantinya pasti banyak syiriknya. " cutek banget sih ca? Kayak aku ada salah aja sama kamu"
"Apaan sih sa, aku capek tau"
"Semua juga capek kali ca, oh iya katanya mantan kamu itu lagi tugas di lombok ya?"
"Hah? Ohh gak tau juga ya". Oh tuhan perempuan ini. Aku hapal banget gimana risa. Jelas dia mau menunjukkan kedekatannya dengan bagas. Buatku sekarang bagas bukanlah hal yang harus kukhawatirkan. Aku hanya memikirkan masa depanku. Karirku sebagai dokter. Dan hal semacam cinta sudah kubuang jauh-jauh untuk saat ini.
ada 8 dokter dari 2 Universitas Swasta di Indonesia yang dikirim tugas Internsip ke RSUD Sanggau. 4 orang dokter dari Medan dan 4 orang dokter lagi berasal dari kota semarang. Kami di utus menjadi satu kelompok yang nantinya harus saling menjaga, membantu dan bersama-sama meningkatkan kinerja kami sebagai dokter.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Kabupaten Sanggau. Jalanan trans kalimantan terbentang mulus. Dengan pemandangan ladang gambut disisi jalan dan sesekali melewati bukit batu dengan alat-alat berat disekitarnya. Jalanannya begitu gelap tidak ada fasilitas pencahayaan. Disinilah nantinya kuhabiskan waktu selama 2 tahun untuk mengabdikan diri pada negara.
"Saya tahu kalian mungkin terbiasa menjadi koas di rumah sakit besar dengan fasilitas yang sangat memadai. Harus saya akui fasilitas disini tidak sebagus dan selengkap di kota kalian. Namun saya mohonkan kepada kalian kalau ada keperluan masalah fasilitas selama kalian tinggal disini, tolong tunjuk satu orang sebagai ketua kelompok sehingga cukup satu orang saja yang datang untuk menyampaikan keluh kesah kalian. Karna saya tidak mungkin setiap hari menerima keluhan dari 8 orang sekaligus". dr. Rama menyambut kami di asrama yang sudah disediakan pemerintah daerah. Dr. Rama merupakan dokter Kepala di RSUD. Sanggau. Tampilannya yang tegap dan tegas penuh wibawa membuat dia sangat disegani.
"Ihh risa gak mau tinggal disini" suara risa hampir memekakkan telinga.
"Kenapa sa?" Tanya tita dengan raut wajah cemas.
"kamu liat dong ta masa kita tidur di bangsal sih. Ini kan bekas orang sakit. Atau jangan-jangan bekas orang meninggal lagi, ihh aku takut" risa semakin menyebarkan kegusaran. ia membuat yang lain merasa takut.
" apaan sih sa. Gak usah manja deh. Lagian kamu mau jadi dokter kok malah takut sih sama tempat tidur pasien? Gak usah nyebar mood negatif" tukasku cepat. Aku tau sekali bagaimana risa, dia bukanlah tipe penakut yang gampang berteriak ketakutan. Bakat akting risa lama-lama membuatku muak. Cara dia bicara yang terlalu dibuat-buat terkadang membuatku mengurut dada menahan sabar.
Selama dua tahun kami harus menjalani internsip di RSUD. Sanggau. Selama disini kami tinggal di asrama yang disediakan pihak pemerintah daerah. Sebuah bangunan lama bekas rumah sakit. Tugas kami setiap harinya berjalan dengan lancar, meski fasilitas di rumah sakit ini tidak sehebat fasilitas yang ada dirumah sakit besar di Medan.
Selama 2 tahun dibagi 5 bagian. Bagian kebidanan, bagian bedah, bagian anak, bagian penyakit dalam dan terakhir selama 6 bulan harus menjadi dokter di puskesmas. Setiap 4,5 bulan kami harus berpindah bagian.
Aku sedang berjaga di bagian bedah ketika seorang anggota Tni harus menjalani operasi akibat luka tusukan yang cukup parah dibagian perutnya. Namun sayang sewaktu operasi sedang dipersiapkan prajurit Tni tersebut tak mampu bertahan lebih lama lagi. Dia menghembuskan nafas terakhir karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
Miris memang, di kawasan perbatasan seperti ini hanya perkara seekor ayam saja bisa kehilangan nyawa. Begitu juga yang dialami Sertu Gunawan. Prajurit yang berasal dari kota boyolali ini harus kehilangan nyawa pada saat menjalankan tugas menjaga perbatasan. Pelaku penikaman merupakan warga setempat yang dipergoki menyelundupkan 10 liter bahan bakar dari wilayah malaysia melewati perbatasan melalui hutan. Sertu Gunawan kebetulan sedang patroli didalam hutan dengan seorang prajurit lainnya. Namun naas menimpa Sertu Gunawan pada saat menegur sebilah pisau langsung ditancapkan keperutnya. Jarak yang cukup jauh antara Sertu Gunawan dengan rekannya membuat dia terlambat diselamatkan. Sementara pelaku sudah lari jauh kedalam hutan.
Sontak gugurnya Sertu Gunawan membuat geram anggota Tni yang lain. Pasalnya bukan kali ini saja. Pos pengamanan perbatasan sering kali diteror dan didatangi rombongan warga yang datang membawa senjata hanya karena barang ilegal mereka di tahan ketika pemeriksaan.
Serka Anthony yang merupakan rekan patroli sekaligus komandan dari Sertu Gunawan menjadi murka. Dia tegak didepan ruang operasi dengan nafas yang berat. Tinggi dan perkasa. Sekujur wajahnya dibakar oleh api kemarahan. Merah. Bengis. Tanpa belas kasih. Bola matanya tenggelam dalam neraka panas yag diciptakannya sendiri. Aku hanya dapat menghela nafas panjang. Rasanya aku dapat merasakan panas yang berpendar dibola matanya yang bulat.
"Ohh tuhan kenapa harus aku yang menyampaikan kabar duka ini, orang nya bengis banget lagi" tentu saja aku hanya berkata didalam hati. Tidak mungkin kuucapkan se-frontal itu didepan dia.
"Maaf permisi? Anda rekan dari Sertu Gunawan?" Tanyaku pelan
" iya saya komandannya" aku menaikkan satu sisi bibirku. Harus sekali dia bilang jabatannya. Dasar laki-laki sombong. Mengkal ku dalam hati.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya prajurit itu panik, peluhnya bercucuran dikening. Bercak darah juga masih mengotori pakaian dan tubuhnya.
"Rekan anda tidak dapat diselamatkan. Dia kehabisan banyak darah. Kami minta maaf". Jawabku sedikit gemetar. Bukan hal mudah menyampaikan kabar duka. Dan ini pengalaman pertamaku. Matanya membelalak. Spontan dia menarik kerah bajuku.
"Kalian ini dokter bagaimana sih. Gak becus. Katanya dokter dari kots besar. Menangani kasus seperti ini saja tidak bisa. Sekarang angota saya jadi korban". Jantungku rasanya hampir terhenti. Takut bercampur gemetar. Suaranya begitu kuat hingga memekakkan telingaku. Badanku yang kurus dengan tinggi 161 cm dan berat yang tak sampai 50 kg rasanya hampir terangkat hanya dengan satu tangan tegap yang berotot. Namun sebagai tenaga medis aku harus tetap tenang. Aku tau bagaimana perasaannya ketika harus kehilangan anggota yang gugur karena tugas. Apalagi anggota dengan prestasi yang bagus. "Saya tidak mau tau, kalian dokter dari kota harus tanggung jawab atas kematian gunawan" teriaknya mampu membangunkan warga satu kampung. Aku tau di cemas. Kalut dan ahhh ntah apalagi memgungkapnya. Tapi menyalahkan dokter atas kematian pasien ini sudah tidak manusiawi. Amarahku pu meledak.
"maaf anda tidak bisa menyalahkan dokter atas hal ini. Seandainya saja anda membawa pasien lebih cepat, pendarahannya bisa kami cegah". Aku bicara sambil mencoba melepaskan tangannya dari kerah bajuku.
"Ohh sekarang kalian mau menyalahkan saya? Mau lari dari tanggung jawab? Hah?" Suaranya semakin kuat. Hingga kudengar langkah beberapa orang berlari menuju arah kami.
"Heii dengar kau laki-laki buas. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien" lelaki ini sudah sangat kurang ajar. Terlalu angkuh. Aku benci dia. seakan mendapatkan tenaga 1000 x lipat dari nyala amarah yang menyambar sekujur tubuhku. Kuhempaskan tangan besarnya dari kerah bajuku. Rasanya aku melihat kemarahan iblis dimatanya. Tanpa tau marah pada siapa. Tatapannya kosong. Nafasnya tergesa-gesa. Tangannya menggenggam begitu kuat. Hingga kulihat guratan urat diototnya yang besar. Barangkali jika dia memegang sebuah apel, bisa dipastikan apel itu remuk tanpa sisa.
Tanpa diduga dilayangkannya tinju ke dinding dengan sangat kuat. Hempasan tangannya begitu dekat dengan sisi pipiku. Hingga dapat kurasakan angin yang tergerak dari ayunan tangannya. Suara tinju itu begitu keras hingga mengagetkan dr. Haryo dan beberapa suster dibelakangnya teriak kaget. Dinding rumah sakit terasa bergetar. Aku tak mampu berkata apapun. Hanya diam. Lemas. Takut dan sangat benci.
Dr. Haryo datang menenangkan dan menjelaskan keadaan pasien. Karena memang dr. Haryo yang menangani pasien tadi. Suster ira menarikku ke ruang jaga. Dia tahu betul aku syok. Kaget bercampur amarah yang membara dan siap membakar siapapun yang menyulutnya.
Suasana kembali tenang ketika kudengar ada beberapa anggota tentara dan kepolisian datang mengurus jenazah. disaat yang sama ada seseorang mengetuk pintu jaga.
" permisi maaf dok saya mau mengobati tangan saya" aku kenal sekali suara laki-laki ini. Suara lelaki yang sudah berani berbuat kurang ajar, kasar dan menyalahkan ku tadi. Dengus nafasku semakin kencang menahan amarah. Aku membalikkan kursi tempatku duduk. Raut mukanya tampak kaget ketika melihatku. Kali ini dia berdiri didepan pintu dengan suara setengah parau.
"Ohh butuh diobati juga. Saya kira anda orang terkuat dibumi ini. Yang gak akan pernah kesakitan apalagi mengeluh. Gak pernah mau salah apalagi mengalah". Jawabku datar tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
"Ahh resek banget nih dokter. Kalau bukan karena cuma kamu dokter yang jaga malam ini saya juga gak mau kamu obati" ketus dia menjawab sambil menyerngit kesakitan. Tangannya berdarah ada luka disetiap ruas jarinya dan terlihat sedikit bengkak.
"Oh silahkan saja cari dokter lain. Gak ngobatin anda saya gak rugi kok" geram sekali rasanya. Betapa angkuhnya lelaki ini. Bukannya minta maaf dia malah menambah kekesalanku. Aku membanting kotak peralatan obat yang kuambil dengan niat mengobatinya. Namun kemengkalanku terlanjur keras melihat kesombongan lelaki ini.
Didepan ruangan lewat suster ana. Segera kupanggil dia untuk mengobati lelaki sombong. Angkuh dan tidak tahu diri yang sekarang berdiri dihadapanku.
"Suster ana"
"Iya dok"
"Tolong saya bantu pasien ini. Tangannya terluka karena kalah berkelahi dengan seorang wanita dia memutuskan untuk berkelahi dengan dinding" aku menjawab dengan nada mengejek sambil membelalakkan mataku pada prajurit sombong itu.
"Iya dok" suster anna tampak bingung dengan ucapanku
"Hati-hati ya sus. Jangan sampai tangan super hero semakin parah lukanya" ejekku sambil berjalan meninggalkan ruangan. Pria jahat itu menatapku marah. Matanya masih sama merahnya. Masih terbakar dineraka yang belum juga sirna.
"Isshh yang bener aja. Emangnya sementang dia pakai baju prajurit terus aku takut sama dia" aku berjalan sendirian pada pukul 3 malam dari ruang jaga menuju ke bangsal perawatan ada lorong sejauh 200m. Lorong itu tampak gelap dan sunyi. Hanya angin malam yang mendesau dingin menusuk tulang yang menemani. Aku hampir menggigil dibalik baju dokterku yang tipis. Hanya ada suara langkah dari hak sepatuku sampai aku tiba diruang rawat bagian kebidanan. Memeriksa keadaan pasien yang baru saja selesai operasi caesar karena posisi bayi yang tidak memungkinkan jika dilahirkan secara normal.
Disana ada dr. Ryan. Dokter muda yang sedang menunggu penempatan tugas, dan untuk sementara dia bertugas di RSUD Sanggau. Dan seorang lagi berdiri tegak disamping pasien. Risa. wanita ini lagi pikirku. Dia langsung membalikkan badannya ketika mendengar suara pintu kubuka.
"Ca ya ampun kamu gak kenapa-kenapa kan?" Dia menghampiriku. Memegang kedua pundakku dan memeriksa tubuhku bagian kanan dan kiri. Seperti seorang ibu yang memeriksa keadaan anaknya yang baru terjatuh dari atas sepeda.
"Apaan sih sa, aku gak kenapa-kenapa kok"
"Tadi aku denger kamu berantem sama bang Anthony"
"Bang Anthony? Oh kamu kenal sama manusia sombong itu"
"Kok kamu gitu sih ca. Jangan terlalu angkuh menilai orang. Namanya juga dia mengerjakan tugas". Ada yang ganjil dari suara risa.
"Kita dokter. Kita juga menjalankan tugas sa. Kamu jangan lupa itu"
"Iya ca aku tau. Yaudahlah dia mungkin kesal dengan pembunuhnya"
"Ohh itu berarti dia tidak profesional menjalankan tugas. Membawa perasaan pribadi dalam tugas itu namanya tidak bijaksana sa"
"Kamu gak boleh gitu dong ca. Bang Anthony itu kan baik orangnya"
"Ngebelain banget?"
"Dia itu prajurit penjaga perbatasan yang aku kenal di gereja. Kamu inget gak orang yang sering aku ceritain itu?"
"Ohh" aku berbalik pergi ke toilet untuk mencuci muka. Aku letih, geram dan kesal. Meski rasanya mencuci muka pada jam segini sama saja seperti menyiramkan air dari bongkahan es. Dinginnya berhasil membuat wajahku terasa kaku hingga susah digerakkan. Tapi setidaknya air yang dingin ini mampu memadamkan sedikit bara amarahku. Aku buru-buru kembali ke ruang jaga bagian bedah sebelum dr. Haryo mencariku.
Dilorong panjang yang terbentang halaman luas dengan rumput hijau disisi kanan dan kiri aku harus berhadapan jalan dengan manusia paling sombong. Jika Risa menyukainya maka mereka akan menjadi pasangan yang sangat serasi. Si sombong dan si iri. Best couple pikirku.
Dengan tatapan dingin dia melirikku. Tanpa menghiraukan keberadaannya aku tetap saja berjalan menengadahkan wajahku.
"Emangnya cuma dia yang bisa bersikap sombong hoo" ejekku pelan sambil tertawa kecil.
Angkuh. Tiba-tiba perkataanku membenak, mengingatkanku pada malam bertemu dengan bagas. Pertemuan kala itu juga dimulai dengan pertengkaran. Namun bagas tidak kasar. Dia hanya tegas dan tidak akan tega main tangan padaku.
"Ca, cepat ke bagian PMI kita butuh darah golongan A untuk operasi" teriakan dokter haryo memecah lamunanku.
Malam yang berat, gugurnya salah satu prajurit penjaga kedaulatan ditambah pertemuanku dengan orang yang paling menyebalkan. Ntah mimpi apa aku semalam harus menghadapi malam seberat ini. Mataku sudah sangat sayu. Sejak siang bagian bedah sibuk karena ada beberapa kasus yang harus ditangani.
Waktu terus berganti. Tugas kami sebagai dokter juga semakin mengasah keahlian kami. Kehadiran tenaga-tenaga muda dari kota memberikan semangat energik bagi rumah sakit. Meski tidak dapat dipungkiri kehadiran kami juga menyibukkan bahkan menyulitkan bagi dokter Rama selaku dokter kepala RSUD Sanggau. Namun beliau merasa sangat bangga menjadi salah satu orang yang berperan terhadap pendidikan kedokteran di Indonesia.
Menghadapi dokter-dokter muda dengan tingkat idealis dan egois yang tinggi seperti kami juga bukan hal yang mudah. Kerap kali dokter rama harus memarahi kami atas kesalahan-kesalahan yang kami perbuat. Misalnya saja salah menghapal nama pasien dan statusnya. Atau perkelahian antara dua dokter yang sama-sama keras mempertahankan keselamatan pasien masing-masing dengan memperebutkan satu tabung gas oksigen. Belum lagi ejekan satu sama lain yang kerap memicu pertengkaran. serta keluhan-keluhan kami yang hampir setiap hari harus didengar dokter rama.
Hari ini kami dikirim ke tempat tugas masing-masing. Kali ini aku bertugas di puskesmas Entikong. Tepat di desa terakhir di dusun Gun Tembawang, desa suruh tembawang yang berbatasan langsung dengan malaysia tepatnya di kampung speed yang jaraknya sekitar 6 km. untuk menuju ketempat inipun tidak mudah dibutuhkan perjalanan panjang yang melelahkan.
Benar saja jika banyak warga negara Indonesia yang pindah kewarganegaraan ke Malaysia. Exodus terjadi karena fasilitas yang buruk mulai dari jalan hingga fasilitas kesehatan. Apabila warga entikong sakit, terlalu jauh untuk menjangkau pengobatan di negeri sendiri. Meski biaya berobat di Malaysia cukup besar namun lebih cepat untuk dijangkau. Inilah alasannya aku dikirim ke entikong untuk mempermudah warga untuk berobat.
Disini lagi-lagi aku harus bertemu dengan lelaki paling menjengkelkan. Entikong merupakan wilayah kerja Anthony, bahkan perjalanan dari Sanggau ke Entikong harus kulalui bersama satuannya termasuk dia. Pertemuan pertama yang sangat tidak mengenakkan membuat kami selalu merasa panas saat bertemu.
"Kau mau apa ke entikong?"
"Ini tugasku, bukan urusanmu"
"Ohh kalau begitu mudah saja, untuk apa kami mengantarmu. Turun saja dan pergi urus sendiri tugasmu"
"Aku toh tidak memintamu untuk mengantarku"
"Hah. Wanita ini benar-benar"
"Kenapa? Kau merasa keberatan? Turunkan saja aku disini. Mungkin aku akan sampai 2 hari lagi ke entikong. Atau sama sekali tidak sampai karena di makan hewan buas atau diculik hantu. Toh bukan aku yang akan menerima hukuman dari atasanmu"
"Terserahlah". Anggota tentara yang lain terheran melihat kami yang terus saja bertengkar sepanjang perjalanan.
Entikong terlalu pedalaman, akses jalannya begitu buruk. Bahkan tidak pantas disebut jalan. Hanya ada tanah merah yang akan sangat licin apabila hujan. Sungai yang tidak memiliki jembatan hingga jalan disebelah jurang dengan ketebalan hutan di sisi lainnya. Bisa terbayang bagaimana susahnya mendapatkan fasilitas di tempat ini.
Aku tinggal di salah satu rumah yang dibangun pemerintah setempat. tepat bersebelahan dengan asrama para prajurit tentara. Ohh apa lagi ini. Sekarang aku harus hidup bertetangga dengan mereka. Mereka? Bukan. Tepatnya Anthony.
Kehadiranku sebagai tenaga kesehatan disambut hangat warga. Karena itu artinya mereka tidak perlu terlalu khawatir tentang perjalanan yang harus mereka tempuh apabila ada anggota keluarga yang sakit.
Hari ini puskesmas entikong sangat ramai, ada beberapa ibu yang partus dan seorang lagi harus di operasi. Namun tiba-tiba polisi membawa satu tahanan yang kondisinya sudah sangat kritis. Dia harus di operasi. Perlawanannya terhadap anggota kepolisian membuatnya harus mendapat tembakan di kakinya. Pendarahannya sangat banyak dan harus segera mendapat perawatan. Namun persediaan darah di rumah sakit maupun di PMI sedang kosong. Aku berlari menuju ruang data dan kulihat siapa saja anggota tentara yang bisa membantuku mendonorkan darahnya.
Sial. "Kenapa harus dia sih yang punya golongan darah b". Tapi aku tidak punya pilihan lain. Demi keselamatan pasienku. Aku harus kesampingkan ego. Semoga saja lelaki satu ini masih punya rasa manusiawi. Namun jika tidak mungkin patut dipertanyakan bagaimana orang tidak punya hati seperti dia bisa menjadi tentara. Bagaimana dia bisa menjaga kedaulatan negara jika hati nurani pun dia tak punya. Dengan langkah berat aku bergegas kesana dan merendahkan egoku untuk memohon bantuannya.
"Permisi"
"Ohh perempuan galak, ngapain kamu malam-malam begini datang kesini? Jangan bilang kalau kamu rindu samaku" sial pikirku. dengan santai dia menjawab seperti itu. Dengan senyum pahit dengan sedikit sinis. Senyum khas miliknya.
"Begini. Aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat. Aku perlu donor darah"
"Heii kalau kamu perlu darah datang ke PMI. Bukan disini. Kamu kira kami disini vampire yang punya persediaan darah?"
"Dengar kau laki-laki bengis, aku kesini karena tidak ada persediaan darah golongan b di PMI. Pasienku sekarat."
"Kalau begitu panggil saja keluarganya"
"Dia tidak punya keluarga"
"Dia lahir dari lubang sumur? Haha" kelakarnya sangat mengejek. Dasar lelaki kurang ajar.
"Dia maling. Tidak ada warga yang mau mengakui dia sebagai keluarga"
"Lantas kamu meminta aku menyumbangkan darahku untuk maling?"
"Apa salahnya? Toh dia juga manusia kan? Buat apa kamu jadi tentara kalau tidak punya hati nurani. Jika menolong satu warga saja tidak bisa bagaimana mungkin kamu mau melindungi negara?"
"Kalau begitu kau minta saja bantuan dari Jenderal Tentara Indonesia, atau minta saja pada Vino darah dia toh golongan B juga."
"Vino sudah menyumbangkan darahnya minggu lalu, menolong orang tidak harus membunuh diri kan?"
"Ahh mintalah dengan yang lain, aku tidak akan menyumbangkan darahkhuuntuk maling."
"Jangan terlalu cepat menghakimi orang lain. Bahkan yang pantas mati sekalipun masih memiliki hak untuk hidup"
Aku geram. Rasanya biji mata ini hampir saja keluar. Kepalaku berdenyut seakan mau meledak. Bagaimana bisa ada orang seperti dia. Jahat. Tidak punya hati.
Setelah mempersiapkan diri aku bergegas menuju ambulance yang akan membawa kami ke rumah sakit. Ketika kubuka pintu ambulance kulihat dia sudah ada disana. Anthony duduk disalah satu sisi tempat duduk ambulance.
"Buat apa kamu disini?"
"Tadi ada yang memintaku untuk menyumbangkan darah"
"Aku pikir hatimu sudah habis dimakan egomu"
"Lantas kau sendiri sedang apa disini?"
"Kami butuh 500cc darah. 250cc dari kamu, 250cc dari saya"
"Hahaaa apa menurutmu darah kita tidak akan bertengkar didalam tubuh maling itu?" Aku hanya meliriknya.
Dalam malam Anthony melihat mata caca yang bersinar indah. Lirikannya tajam. Menusuk tepat ditengah-tengah bola matanya. Dia merasa panas. Tak tahu untuk alasan apa. Mereka selalu bertemu dalam keadaan marah. Namun airmuka wanita ini berbeda sekarang. Kemarahannya penuh kelembutan. Mukanya pucat, garis pipinya yang tinggi terlihat sejajar menenggelamkan bola matanya yang besar dan tajam. Dalam gelap Anthony memandang seksama kecantikan wanita sadis ini. Wanita yang selalu muncul dengan ledakan amarah dikepalanya.
"saya minta maaf."
"Minta maaf? Untuk apa?"
"Untuk kejadian di hutan bakau yang lalu" ada duka merayap sekelebat dimata gadis ini semacam sambaran petir yang meneteskan air hujan. "Demi tuhan. Aku sungguh-sungguh minta maaf ca. Beginikah caramu menyambut orang yang meminta maaf?"
"Bagaimana caramu? Memeluknya dengan paksa?"
"Jika itu diperlukan"
"Seperti Risa?". O, aku benar-benar tak ingin mengucapkannya. Rasanya ingin sekali kugigit bibirku sampai berdarah karena sudah kelepasan bicara. Tapi terlambat sudah.
"Risa? Kamu cemburu dengan risa?"
Anthony melihat mata caca bercahaya seperti mata kucing, pandangannya ganjil. Ia buru-buru membalik untuk menyembunyikan lukanya. Tetapi Anthony telah melihatnya. Dan heran. Ia turut merasakan kesakitan gadis ini dalam dirinya.
"Ca.." dia memegang tangan gadis ini dan memaksanya menoleh. "Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Aku benar-benar minta maaf. Kau boleh minta tolong padaku saat kau memerlukannya."
"Sekarangpun aku membutuhkan pertolongan itu."
"Katakanlah."
"Tolong jangan ganggu aku lagi. Aku mau tidur."
"Cuma itu?". Anthony tersenyum tipis. Senyumnya berubah lembut. Aku belum pernah melihat senyum sekeren itu bermain dibibir seorang pemuda.
"Untuk malam ini cuma itu."
"Mau tau kenapa aku mau mendonorkan darahku untuk maling itu?"
Aku berbalik melihatnya "simpan saja jawabanmu." Dan berlalu dalam gelap.
Sungguh tak masuk akal. Bagaimana bisa terjadi. Aku betul-betul tidak mengerti diriku sendiri. Permainan apa pula ini? Aku benci pemuda itu. Aku ingin mempermainkannya. Kali ini, apa bukan aku yang sedang dipermainkan? Ahh, ntahlah.
Kenangan pahit itu tiba-tiba muncul mengawali mimpi burukku. Hari itu tepat setahun kami menjalankan tugas didaerah. Kami mendapat pinjaman mobil dari dokter Haryo. Setiap hari minggu kami memang diberi hari libur untuk beristirahat. Mobil itu kami gunakan untuk mengelilingi kota Sanggau. Hingga menuju ke pesisir dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri hutan bakau.
Informasi yang kami dapat dari warga sekitar, ditengah hutan terdapat danau yang indah. Kami begitu bersemangat untuk sampai kesana. Sudah setahun kami tidak pernah pergi untuk sekedar piknik. Barang kali ini jadi pengalaman baru yang patut diingat. Namun bagiku ini pengalaman yang menyakitkan. Ada kepedihan yang tidak mampu terucapkan. Dan aku benar-benar merasa terpukul. Bahkan dia menyakitiku dengan setiap dengusan nafasnya.
To be continue

Tidak ada komentar:
Posting Komentar