Baca Dulu :
Doa Dua Menara 1
Doa Dua Menara 3
Sudah hampir setahun kami saling mengenal dan menjalin hubungan. Bukanlah hal yang mudah menjadi pasangan dengan banyak pertentangan. Rekanku sendiri dan juga rekannya sama-sama tidak setuju dengan hubungan kami, namun tidak ada yang salah tentang cinta bukan? Bukankah cinta itu buta?
Tidak. Cinta tidak buta tetapi mampu membutakan hati. Seperti pertemuan pertama yang mampu meninggalkan kesan mendalam hingga tahun-tahun berikutnya tetap meninggalkan kenangan yang mampu memacu jantung berdetak lebih cepat.
"Mbak Tari aku ngantuk banget, aku kedepan dulu ya, minum kopi sebentar" mbak Tari ada lah perawat senior yang berjaga hari ini, kami memang sering menjadi petugas jaga bersama.
"Iya adek koas. Minum kopinya jangan sambil nangis ya" dia tertawa kecil melihat aku meliriknya dengan kesal
"Resek kamu mbak" jawabku manyun.
Untuk saat itu aku tidak bisa banyak membalas ledekannya karena hatiku sedang dilanda kesedihan. Mbak Tari yang menyaksikan sendiri bagaimana Ringga memutuskan tali cinta kami kemarin.
"Pak capucino panas pakai susu sedikit ya"
"Iya mba seperti biasakan? Gak sekalian makan?"
"Gak pak, saya mau minum aja. Ngantuk"
"Oke tunggu ya"
Didepan rumah sakit tempatku bertugas memang terdapat banyak warkop (warung kopi) pinggir jalan yang ramai didatangi kaula muda. Meskipun tempat itu ramai namun aku merasa asing dalam kesendirian. Wanita memang selalu pandai menunjukkan ketidakbahagiaannya. Aku duduk disudut kursi panjang yang berbaris tepat di pinggiran jalan depan rumah sakit. Dengan rok pendek dan kemeja batik berlengan panjang aku sudah tampak letih setelah berjaga selama 5 jam tanpa istirahat. Berjaga bukanlah tugas yang baru kulakukan, sudah hampir setahun aku menjadi koas di rumah sakit ini. Tapi hari ini bertugas terasa lebih berat. Mungkin karena hati yang sedang terluka, tiba-tiba penyakit insomnia muncul dengan seiring meningkatkan sensitivitas dan masih dengan lamunan yang sama, lamunan yang mengingatkan ku pada patah hatiku kemarin
"kok gak diminum ntar kopinya dingin loh" suara dari sosok pria yang duduk didepanku membuyarkan khayalanku.
Aku hanya menatapnya sinis
"gak boleh ngelamun loh! Kamu kerja dirumah sakit ini?"
"Iya"
"Sebagai apa? Dokter?" Aku menggelengkan kepalaku. "suster?" Sekali lagi aku menggelengkan kepalaku, rambutku yang bergelombang panjang berwarna coklat pun ikut bergerak kekanan dan kekiri. Siapa sih lelaki ini, sok oke banget. Tentu saja aku katakan itu dalam hatiku. Rasanya malas sekali meladeninya.
"Tukang sapu" jawabku ketus berharap dia berhenti bertanya. Karena aku mulai merasa tidak nyaman.
"Haha mana ada tukang sapu kerja jam segini, lagian kamu terlalu cantik jadi tukang sapu"
"Apaan sih"
"Galak banget sih!! Aku bagas" dia mengulurkan tangannya dengan sigap, badannya tegap, tinggi dengan warna kulit yang gelap. Dia tersenyum dengan menaikkan satu sisi bibirnya.
Pandangan pertama yang mampu mengalihkan perhatianku. Kali pertama pertemuan yang tak kan bisa kulupa senyumnya, binar matanya hingga suaranya yang masih sangat kuhafal. Pertemuan singkat namun cukup dalam meninggalkan kesan.
*
" kamu sabar ya sayang, pasti nanti aku kenalin kamu ke mama dan papa" kusandarkan kepalaku dipundaknya.
Cukup lama aku dan dia kehilangan moment berdua karna tugas BKO nya ke kota Aceh cukup lama. Ini salah satu resiko yang harus aku terima. Belum lagi saat dia harus menghadapi masalah yang sulit dan ketidakstabilan keamanan disuatu daerah, otomatis ketenanganku pun lenyap. Tugasnya sebagai anggota kepolisian memiliki resiko yang besar termasuk keselamatannya.
" kamu takut? Sayang aku kan udah pernah bilang kekamu, apapun yang terjadi kita akan perjuangkan hubungan kita sama-sama" dia berbicara begitu tak seperti biasanya. Ya, Bagas bukanlah tipe lelaki dengan sikap yang lembut apalagi romantis. Dia cenderung keras, dengan nada bicara yang tergolong kasar dan acuh tak acuh. Namun memiliki rasa penyayang yang begitu besar. Aku tidak heran karena kerasnya dunia pendidikan dan lingkungan kerjanya sebagai polisi pasti mempengaruhi sikapnya.
Aku tau sekali perkataannya bukanlah main-main, dan hanya tinggal menghitung waktu pasti dia akan datang memperkenalkan dirinya meski tanpa aku.
Pertama kali dia memperkenalkanku ke lingkungannya pun masih bisa kurasakan atmosfer saat itu. Ketika aku baru saja melipat sajadah selepas sholat magrib dia menelfon dengan semangatnya.
"Yank nanti malam kita keluar ya"
"Jam berapa sayang? Mau kemana?"
"Ke cafe yank nanti ada adekku sama temenku dari kampung, aku mau kenalin kamu sama mereka"
"Ohh yaudah"
"Jangan berdandan, jangan pakai rok pendek. Biasa aja pakaiannya"
"Loh emangnya kenapa? Masa gak boleh sih yank? Yaudahlah aku pakai jilbab aja" ntah kenapa tiba-tiba kata itu terlontar dari bibirku. Kata-kata yang terdengar biasa bagi sebagian orang, namun mampu menyulutkan kemarahan dan kekesalannya.
"Isss kamu nih baru mau dikenalin udah gitu bilangnya" bagas memiliki emosi yang tak terkendali, namun dia tak pernah berlama-lama bertahan dengan kemarahannya. Kekesalan yang muncul hanya sebentar namun hadir dengan sedikit sikap kasar. Sikap yang dulu bahkan sama sekali tak kusukai, namun padanya sikap itu bisa ku toleransi. Sebesar itukah cinta?
Kami bertemu disalah satu cafe dimedan yang terkenal dengan life music khas musik batak. Hampir tak ada percakapan karna mereka berbicara menggunakan bahasa adat batak. Yang sama sekali tak kumengerti. Ini lah yang terkadang membuat perbedaan terasa begitu asing.
*
Benar saja keesokan malam dia datang kerumah meminta izin kepada orangtuaku untuk mengajakku pergi keluar malam itu. Ohh andai bisa kuungkapkan bagaimana takutnya aku. Tentu saja kehadirannya menjadi pertanyaan yang harus kujawab kepada orangtuaku. Dia siapa? Rumahnya dimana? Kerjanya apa? Orangtuanya kerjanya apa? Agamanya?
Yup. Pertanyaan terakhir berhasil membuat bibirku membisu. Malam tiba-tiba menjadi sangat hening. Seakan telingaku tak mampu mendengar apapun bahkan tak mampu merasa semilir angin. Begitu dingin, begitu mencekam hingga rasanya mampu menenggelamkanku dalam ketakutan yang sudah lama membayang. Takut akan kehilangan. Kehilangan lelaki yang sangat ku cintai. Cinta yang begitu besar hingga mampu mengalahkan logika. Logika, hal yang sangat ku pegang dari dulu. Berpikir berdasarkan logika. Tapi inilah cinta. Begitu misteri. Logika hanya bisa diam ketika cinta sudah bicara.
*
Lama kuhabiskan waktu hanya tuk mengenang masa laluku bersamanya. Setelah setahun lamanya hubungan ini berakhir, namun aku masih nyaman di aras luka yang sama. Luka yang sengaja ku pelihara dalam hatiku, hanya karena tak ingin kehilangan memori tentangnya setelah kehilangan raganya. Kopi yang tersaji ini sudah jelas dari kopi sachet yang tergantung rapi di etalase dapur, begitu kukenal aromanya. Satu-satunya merk kopi saschet yang masih memiliki sedikit rasa kopi. Perlahan ku seruput kopi yang sudah mulai hangat. Benar saja kopi sachet campuran arabika dan robusta yang di tambah dengan susu krimer. Rasanya terlalu manis. Jelas dapat ditebak kopi ini dibuat oleh mama, tangan terlalu ringan menambahkan gula atau susu pada minuman.
"Kamu udah siapin barang-barang kamu? Jangan sampai ada yang ketinggalan lo. Disanakan masih perkampungan di pedalaman nanti kalau ada yang ketinggalan kamu yang repot. Mau cari dimana disana?" Belum lagi sampai diruang makan mama sudah bicara dan mengomel.
"Kamu udah siapin barang-barang kamu? Jangan sampai ada yang ketinggalan lo. Disanakan masih perkampungan di pedalaman nanti kalau ada yang ketinggalan kamu yang repot. Mau cari dimana disana?" Belum lagi sampai diruang makan mama sudah bicara dan mengomel.
" iya ma, udah di packing kok" aku meletakkan cangkir kopi yang kubawa dari kamar, meraih sepotong roti bakar yang diolesi selai serikaya. Rotinya sudah dingin dan liat.
" kamu harus kuat dek, jangan kebawa perasaan terus. Kamu disini sedih-sedih belum tentu juga bagas mikirin kamu" sambil mengambil roti dari panggangan dan mengolesinya dengan selai. Omongan mama membuatku tertegun sejenak. " nih makan roti yang masih panas, roti udah liat begitu mana enak lagi. Dari tadi sih bukan bangun sampai dingin rotinya"
Jelas saja rasanya 10x lipat lebih enak dari roti dingin tadi.
" kamu berangkatnya sama siapa?"
"Ada 3 dokter dari medan ma, nti adek perginya sama mereka"
" nanti sering-sering telfon mama sama papa ya"
"Iya ma, mudah-mudahan sih gak susah sinyal ya ma"
"Fokus sama karir dek, ini kan impian kamu jadi dokter dan bisa mengabdi di daerah. Jangan terlalu larut sama perasaan kamu. Udah waktunya kamu bangun hidup yang baru" kali ini mama bicara dengan sangat lembut begitu lembut hingga menyentuh kesudut hati terdalam dan airmata berurai tak tertahan. Mama memelukku erat " bagaimanapun gak ada jalan untuk kalian bisa bersama. Ikhlaskan dek. Yakinlah Allah akan kasih kamu jodoh yang lebih baik kalau kamu ikhlas" aku terisak dalam dekapan hangat mama.
Aku harus bangkit. Bangun dari keterpurukanku. Mama benar. Tidak ada jalan untuk kami bersatu. Bagas satu-satunya anak lelaki dalam keluarganya. Dan sudah pasti tak ada orang tua yang mengizinkan anaknya pindah agama hanya karena cinta. Apalagi dia satu-satunya penerus marga. Hal yang mustahil namun terus menjadi doa setiap kali aku bersujud. Berharap keajaiban, berharap hidayah hadir padanya. Namun harapan hanyalah harapan. Mulai sirna ditelan kenyataan. Dan akh sendiri harus membangun harapanku yang baru.
Aku harus bangkit. Bangun dari keterpurukanku. Mama benar. Tidak ada jalan untuk kami bersatu. Bagas satu-satunya anak lelaki dalam keluarganya. Dan sudah pasti tak ada orang tua yang mengizinkan anaknya pindah agama hanya karena cinta. Apalagi dia satu-satunya penerus marga. Hal yang mustahil namun terus menjadi doa setiap kali aku bersujud. Berharap keajaiban, berharap hidayah hadir padanya. Namun harapan hanyalah harapan. Mulai sirna ditelan kenyataan. Dan akh sendiri harus membangun harapanku yang baru.
Seandainya masih ada bagas. Pasti dia memintaku tetap tinggal. Seperti yang sudah-sudah.
"Aku mau koas ke Medical Centre Batam yank"
"Maksudnya? Kamu mau pindah ke Batam? Kenapa langsung mutusin kayak gitu? Kenapa gak tanya dulu ke aku?"
"Batam kan deket. Kita masih bisa sering ketemu. Aku bisa sering pulang kan?"
" Kamu mau ninggalin aku? Jangan pergi yank, tolong jangan pergi. Nanti aku sama siapa disini. Kalau aku ladies aku gak bisa ketemu kamu"
" Hemmm. Yaudah aku koas disini"
"Terima kasih sayang, aku sayang banget sama kamu. Kamu perempuan terbaik yang pernah aku kenal"
Ya mungkin perempuan terbaik dan juga perempuan termalang yang tak bisa memiliki cinta yang dia inginkan.
*
"Haahhhh... aku masih ngantuk banget. Kenapa sih berangkatnya harus sepagi ini".
"Aku gak sabar banget ca sampai kesana melewati internship bareng, kemarin kita tugas koas bareng juga" sahut Tita teman satu angkatan yang sama-sama tugas internship di daerah.
"Kalau aku sih berharap tempatnya sedikit kota, jangan terlalu ke daerah yang pedalaman. Ampun deh tempatnya kemana-mana jauh dan serba susah" keluh Fathir salah seorang dokter dari medan yang dikirim tugas internsip di daerah bersama kami. Kami satu angkatan di Universitas yang sama.
"Oh ya ca si Risa kok gak berangkat bareng kita ya?"
"Baguslah ta, paling gak selama beberapa jam terbebas dari orang sok tau"
"Masih sensi aja ca sama risa?"
"Ihh apaan sih fathir. Ngapain juga aku sensi sama dia. Hemm lupa risa kan permaisuri kamu ya? Pantes dibelain"
"Gak asik kamu ca, dia gak mau sama aku. Dia kan sukanya sama mantan kamu, hahaha". Mendadak tawa fathir berubah menjadi secarik pisau yang menusuk relungku hingga membuat nafasku tertahan cukup lama.
Kenapa harus membangkitkan ingatanku sepagi ini? Risa memang temanku, tapi dia selalu merasa tidak senang jika aku dekat dengan lelaki. Dan pada saat itu juga dia pasti akan mendekati lelaki itu juga. Namun tidak dengan bagas, yang begitu acuh mengabaikan setiap perhatian yang dilontarkan Risa kepadanya. Hal ini membuat Risa semakin merasa iri padaku. Belum lagi perbedaan diantara aku dan bagas, selalu menjadi pembahasannya untuk mengungkit perpisahan antara kami. Dia merasa dialah yang jauh lebih pantas untuk bagas. Dengan sikapnya yang lembut dan sisi kewanitaan yang begitu melekat ditambah lagi mereka seagama. Namun cinta tetaplah cinta. Jika bintang saja tak mampu merubahnya, tak mungkin hanya dengan ucapan ia melerainya.
"Oh ya ca si Risa kok gak berangkat bareng kita ya?"
"Baguslah ta, paling gak selama beberapa jam terbebas dari orang sok tau"
"Masih sensi aja ca sama risa?"
"Ihh apaan sih fathir. Ngapain juga aku sensi sama dia. Hemm lupa risa kan permaisuri kamu ya? Pantes dibelain"
"Gak asik kamu ca, dia gak mau sama aku. Dia kan sukanya sama mantan kamu, hahaha". Mendadak tawa fathir berubah menjadi secarik pisau yang menusuk relungku hingga membuat nafasku tertahan cukup lama.
Kenapa harus membangkitkan ingatanku sepagi ini? Risa memang temanku, tapi dia selalu merasa tidak senang jika aku dekat dengan lelaki. Dan pada saat itu juga dia pasti akan mendekati lelaki itu juga. Namun tidak dengan bagas, yang begitu acuh mengabaikan setiap perhatian yang dilontarkan Risa kepadanya. Hal ini membuat Risa semakin merasa iri padaku. Belum lagi perbedaan diantara aku dan bagas, selalu menjadi pembahasannya untuk mengungkit perpisahan antara kami. Dia merasa dialah yang jauh lebih pantas untuk bagas. Dengan sikapnya yang lembut dan sisi kewanitaan yang begitu melekat ditambah lagi mereka seagama. Namun cinta tetaplah cinta. Jika bintang saja tak mampu merubahnya, tak mungkin hanya dengan ucapan ia melerainya.
Dengan pesawat paling pagi kami berangkat ke Kalimantan Barat. Setelah mengudara kurang lebih 2 jam dari bandara Kualanamu ke bandara Soetta untuk transit dan melanjutkan kembali perjalanan udara selama dua jam menuju Bandara Supadio mengawali langkah kami menuju tapal batas Indonesia yang berhadapan langsung dengan Malaysia, Sanggau. Tepatnya RSUD Sanggau. Selama beberapa bulan kedepan aku harus melaksanakan tugasku sebagai dokter internsip di RSUD Sanggau, sebelum nantinya aku harus menyelesaikan tugasku di puskesmas entikong.
To be continue . . . . .
Baca juga :
Doa Dua Menara 1
Doa Dua Menara 3
To be continue . . . . .
Baca juga :
Doa Dua Menara 1
Doa Dua Menara 3

Tidak ada komentar:
Posting Komentar