Jumat, 25 Januari 2019

Doa Dua Menara

DOA DUA MENARA 1

1


Tarikan nafasku melambat, aromanya begitu kukenal. Aku menghirupnya dalam-dalam. Begitu akrab, mengekspansi ruangan kamar hingga membawaku terlelap pada masa lalu. Aku terbangun pagi ini bersama aroma yang menguar dari cangkir keramik berisi suspensi pekat yang masih panas. Aromanya berhasil mengantar lamunanku setahun lalu.

*

"Kamu gak akan pergi lagi kan?" Tanyaku lirih sambil menghirup kopi panas yang ada ditanganku. Kepulan uapnya masih berputar diatas cangkir.

"Gak tau sayang, yahhh namanya juga tugas mau bagaimana lagi" 
Sambil menyeruput coklat panas yang dia pesan, dia menjawab ragu. Pekerjaan menuntutnya untuk siap bertugas kapanpun diperintahkan.

Hari ini kami bisa bertemu kembali setelah 6 bulan lamanya kami terpisah oleh jarak. Dia pergi tugas untuk mengawal pengamanan ke daerah konflik di kota lain. Bagas adalah sosok yang sangat tegas tapi sangat berperasaan lembut. Aku tau dia lebih dari yang orang lain tau. Kelemahannya, ketakutannya, masalahnya, bahkan kebohongannya.

" kita kan baru jumpa sayang. Kamu bilang perginya cuma 3 bulan ehh malah 6 bulan baru pulang" raut mukaku masam mengingat betapa tidak menyenangkannya menjalankan hubungan dengan jarak yang jauh.

" kan sekarang udah pulang, udah deket lagi sama kamu" dengan senyum bagas menjawab sambil mengelus kepalaku. " yaudah sebagai gantinya kita liburan aja, gimana?"

" hmmm.. aku liburnya lebaran, sementara kamu lebaran juga tugas terus" air mukaku semakin kusut. Ini bukan pertama kali nya kami merencanakan pergi berlibur. Tapi karna tugasnya tak pernah memberi kami ruang sekedar melepas penat bersama.

" lebaran nanti aku kerumah kamu ya!"

" kenapa? Untuk apa?" Sahutku dengan sedikit terkejut

" aku gak boleh kerumah kamu?" Dia menundukkan kepala menarik nafas panjang " kita mau sampai kapan gini terus? Kamu udah kenal keluarga aku, kapan kamu bawa aku ke keluarga kamu?"

Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong. Ntah apa yang harus aku katakan. Memperkenalkannya kerumah sama aja mengakhiri hubungan kami. Apa jadinya jika orang tuaku tau kalau kami berbeda.

Perbedaan. Selalu menjadi hal krusial penyebab keretakan suatu hubungan. Bukankah karna ada perbedaan maka ada kata persatuan? Indonesia memang memiliki suku bangsa yang sangat banyak jumlahnya. Perbedaan suku saja sudah menjadi masalah yang pelik. Tapi cinta tak mengenal kasta kan? Cinta juga tak mengenal identitas. Cinta adalah rasa. Rasa yang tumbuh dalam benak dua insan yang sedang dilanda asmara. Apapun statusnya, pangkatnya tidak lah menentukan batas cinta. Karna cinta menilai terlalu suci. Karna cinta adalah anugerah sang Ilahi.

Lalu apa salahnya sekarang? Disetiap sujudku aku selalu meminta cinta yang terbaik. Hingga saatnya tiba Allah mengirim kamu Bagas Silitonga sebagai seorang pria yang penuh kasih memberiku cinta yang indah. Cinta yang selalu kupinta pada sang Ilahi. Bukankah allah yang memberiku cinta? Lalu kenapa sekarang cintaku salah?
Tak sekalipun namanya lekang dari doa-doaku. Ntah Allah akan mendengar doa tentangmu atau tidak. Ntah lah mungkin salah karna memulainya. Tapi aku terlanjur jatuh terlalu dalam, menyelam cinta yang tersemai subur diantara dua menara doa. Disaat hati kita berpadu diantara dua tuhan yang berbeda, Akankah doaku dan doamu bertemu?

To be continue....

Baca kelanjutannya:

Doa Dua Menara 2

Doa Dua Menara 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar